Seleksi Perangkat Desa Majasem Disorot, Peserta Ajukan Protes
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 18 Feb 2026
- visibility 138
- comment 0 komentar

polemik seleksi perangkat Desa Majasem masih menjadi perhatian warga

polemik seleksi perangkat Desa Majasem masih menjadi perhatian warga
PERWIRANEWS.COM, KEMANGKON – Seleksi penjaringan perangkat Desa Majasem, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, menuai polemik setelah sejumlah peserta melayangkan mosi tidak percaya atas hasil ujian. Protes mencuat usai pengumuman pada 15 Februari 2026, dengan dugaan kejanggalan pada nilai tes tertulis dan praktik komputer.
Ujian yang diikuti 47 peserta dari berbagai formasi jabatan itu digelar di SMK Negeri 1 Bukateja pada Minggu (15/2/2026). Hasil seleksi diumumkan pada hari yang sama. Namun, dua hari berselang, sejumlah peserta yang tidak lolos mempertanyakan proses dan hasil penilaian.
Sekitar 10 peserta mendatangi balai desa pada Selasa (17/2/2026) untuk melakukan audiensi dengan panitia penjaringan, pemerintah desa, serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam tersebut berjalan tegang dan belum menghasilkan kesepakatan.
Nilai Sempurna dan Dugaan Kebocoran Soal
Salah satu peserta, Titin, menyebut nama-nama yang dinyatakan lolos sudah beredar sebelum seleksi dilaksanakan. Ia menduga terdapat kebocoran soal dalam proses tersebut.
“Sejak sebelum pendaftaran sudah ada isu lima nama yang bakal jadi. Setelah ujian selesai, ternyata benar lima orang itu yang lolos. Kami menduga ada kebocoran soal,” ujar Titin saat audiensi, Selasa (17/2/2026).
Peserta juga menyoroti hasil tes tertulis yang dinilai tidak masuk akal. Mereka mempertanyakan adanya peserta yang memperoleh nilai sempurna tanpa satu pun kesalahan.
“Kami ragu, apakah mungkin ada yang bisa mengerjakan 100 persen soal tanpa salah. Selisih nilainya juga sangat jauh dibanding peserta lain,” kata Titin.
Hasil Tes Komputer Dipertanyakan
Selain tes tertulis, hasil praktik komputer turut menjadi sorotan. Seorang peserta dengan nomor ujian 40 mengaku heran karena peserta dengan nilai tertinggi dinilai tidak menguasai keterampilan dasar komputer.
“Yang nilainya paling tinggi itu tidak bisa menggunakan komputer dengan baik. Membuat folder saja harus dibantu peserta lain. Tapi nilainya justru tertinggi,” ujarnya.
Temuan tersebut memicu tuntutan tes ulang dari peserta yang merasa dirugikan. Mereka menilai proses seleksi belum berjalan transparan dan berpotensi tidak adil.
Pernyataan Panitia dan Pemerintah Desa
Ketua Panitia Penjaringan, Salim, membantah adanya kecurangan. Ia menegaskan penyusunan soal, pengawasan, dan penilaian dilakukan oleh pihak ketiga dari unsur akademisi Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ).
“Kami hanya mengawasi. Soal disusun dan dinilai oleh pihak akademisi. Lembar soal bahkan diamankan berlapis. Tidak mungkin ada kebocoran. Kalau ada tudingan, silakan dibuktikan,” tegas Salim.
Kepala Desa Majasem, Tri Muldiati, menyatakan tudingan tersebut masih sebatas dugaan dan belum disertai bukti.
“Kami yakin panitia bekerja sesuai ketentuan. Jika ada yang meminta tes ulang, harus disertai bukti terkait kebocoran soal,” ujarnya.
Audiensi berakhir tanpa keputusan. Hingga kini, polemik seleksi perangkat Desa Majasem masih menjadi perhatian warga. Peserta yang kecewa mendesak adanya langkah lanjutan untuk memastikan proses seleksi berjalan terbuka dan akuntabel.
- Penulis: admin











Saat ini belum ada komentar